Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Dari Pelatihan Pertamina Jadi Pengusaha Maggot

Prabumulih, Center-post.com – Bermodalkan ikut pelatihan yang di gelar oleh Pertamina Zona 4 Hulu Rokan, Pak Didi, Warga Desa Makartitama, Kecamatan Peninjauan, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, kini berhasil membudidayakan ulat maggot di kampungnya.

“Awalnya saya ikut pelatihan dari pertamina, kemudian saya coba terapkan dan alhamdulillah berhasil”, ungkap pak Didi, saat di wawancarai wartawan di Gedung Patra Ria dalam acara Edukasi Media dari PT Pertamina, Rabu (28/2/2024)

Pak Didi, merupakan pria kelahiran tahun 1977 di Provinsi Jawa Barat, saat ini dirinya beserta istri dikarunia tiga orang anak dan empat orang cucu yang sudah menetap dan tinggal di Kabupaten Ogan Komering Ulu.

Diceritakan, awalnya saya berjalan ke daerah pasar, di sana saya banyak melihat bekas sampah, mulai dari sampah-sampah sayuran, sampah dedaunan sampai sampah plastik begitu juga di daerah tempat saya tinggal, sehingga muncul lah ide untuk membudidaya ulat maggot.

“Untuk budidaya ulat maggot ini selain diberikan pelatihan dari pihak pertamina, saya juga di berikan bantuan sebuah rumah maggot sebagai tempat budidaya dengan ukuran kurang lebih 10×12 meter dan itu sangat membantu”, terangnya.

Pengusaha ulat maggot ini juga mengatakan, alhamdulillah respon masyarakat sekitar cukup bagus, karena dengan adanya budidaya maggot dapat mengurangi limbah sampah dan alternatif dari banyaknya usaha yang bisa kita geluti.

Dikatakan, untuk hasil budidaya produksi dari ulat maggot ini masih dalam hitungan per bulan, dimana perbulannya ulat maggot yang saya hasilkan bisa mencapai 20 kg maggot dengan hargu jual perkilonya sebesar Rp.10 ribu.

“Pemasaranya saat ini baru sebatas lingkungan sekitar, karena memang hasil produksi yang masih terbilang sedikit”, terangnya.

Dijelaskannya, saat ini baru tiga jenis hasil produksi yang bisa saya hasilkan, mulai dari pupuk cair, pakan ikan dan maggot sangrai yang bisa di oleh menjadi tepung konsumsi.

Pria berusia 47 tahun ini juga menjelaskan, untuk budidaya ulat maggot ini baru berjalan kurang lebih dua tahun, dimana media yang saya pakai untuk menarik indukan dari lalat BSF yang kemudian bertelur dan menetas menjadi ulat maggot itu hanya memakai dedak dan sisa sampah masyarakat.

Lanjutnya, oleh karena itu, di daerah saya masih belum terbentuk kelompok untuk budidaya ulat maggot ini, karena memang waktu yang masih terbilang baru namun, kedepan mungkin kami akan membentuk kelompok agar bidadaya maggot ini dapat berkembang dan mendapatkan hasil yang lebih banyak.

Kedepan saya berharap, bagi para pengusaha ulat maggot seperti kami ini bisa lebih di perhatikan, mulai dari pakan, tempat sampai pemasaran agar bisa lebih efektif dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas. (Mikel)

 

 

 

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page